Portal-Rakyat : Politik, Ekonomi, Sejarah, dan Budaya Indonesia

Thursday, March 26, 2020

Kisah Hidup dr Tirta Hudhi ; Dokter dan Influencer Nyentrik yang Gigih Memerangi Virus Corona

Dalam program talkshow ILC (Indonesia Lawyer Club) yang ditayangkan tvOne (24/03) tampil salah seorang dokter muda dengan gaya nyentrik bertopi pengelana atau topi rimba.

Dibalik penampilannya yang cerdas dan bersemangat, ternyata dokter muda itu memiliki sejumlah pengalaman yang kurang menyenangkan di masa silam. Hal ini bisa dibaca pada akun atau lini masa twitter yang mengunggah sebagian masa lalunya yang pahit.

Dalam media twitter milik dr Tirta (@tirta_hudhi), ia menceritakan bahwa sejak usia 8 (delapan) tahun, ia terinfeksi TBC (tuberculosis) yang merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia. Jumlah kasus masuk rumah sakit dan tingkat kematiannya termasuk tinggi karena dapat menyebar secara airborne. Naas, ia terpapar TBC saat teman seusianya waktu itu (8 tahun) batuk di depan dirinya.

Ia akhirnya harus melakukan proses pengobatan yang berlaku selama 6 (enam) bulan yang ternyata gagal sehingga harus ditambah 4 (empat) bulan. Baru setelah itu dinyatakan sembuh setelah total menjalani masa pengobatan 10 (sepuluh) bulan. Namun menurut prediksi medis, ia setelah itu akan menjadi orang yang mengalami sakit terus-terusan. Paru-parunya digambarkan selalu terdapat flek dan benar, meskipun telah mengikuti program penyembuhan, ia terkena berbagai macam penyakit pernafasan seperti faringitis, laringitis, tonsilitis, bronkitis, dan sinusitis. Kejadian ini berlangsung sampai usia SMA. 

Namun dengan keterbatasan kesehatannya, ia tidak menyerah dan tidak menghalanginya untuk meraih prestasi di sekolahnya. Ia berhasil menyabet siswa teladan. Bahkan ketika SMA, ia dikirim mewakili Solo dalam Olimpiade Matematika.

Memasuki bangku kuliah, ia memutuskan masuk ke Fakultas Kedokteran, selain karena masku dalam grade tinggi, ia juga ingin membutktikan bahwa anak SMA swasta pun bisa tembus UGM dan benar saja, waktu itu ia berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.

Selama di Yogyakarta, ia menjalani kuliah sembari merintis menjadi pengusaha. Hebatnya, pendidikannya tidak terganggu meski menyambi menjadi pengusaha. Bahkan skripsinya selesai di semester 6 (enam) dan lulus dengan kategori cumlaude. Karena prestasinya, dosen kuliahnya, Prof Iwan dan dr Jarir menawarkan beasiswa ke Belanda namun ditolak oleh Tirta. Ia menyatakan ingin segera mengabdikan hidupnya sebagai dokter IGD. Setelah menjalani masa ko-as selama 1,5 tahun, dr Tirta bekerja di RS UGM dan Puskesmas Turi, sambil tetap nyambi di Shoesandcare, usaha pencucian sepatu. Prediksi bahwa ia bakal sakit-sakitan terbukti. Ia jatuh sakit beberapa kali termasuk pada tahun 2018 ketika ia divonis bronkitis kronis.

Atas saran medis, ia memutuskan berhenti menjadi dokter IGD dan menekuni usahanya di Shoesandcare. Bukan dengan tujuan utama untuk dirinya namun demi menghidupi anak buahnya ang sebagian berasal dari anak jalanan. Karena perjuangannya di usaha ini yang melibatkan orang-orang yang terpinggirkan, ia diundang memberikan kuliah tamu di UGM dimana ia bertemu kembali dengan Prof Iwan. Ia mendapat nasehat bahwa menjadi dokter tidak selalu berjuang di belakang jas praktek namun bisa di bidang lain. Ia diminta berjuang dengan caranya sendiri.

Sampai akhirnya wabah virus corona menyerang Indonesia yang memakan banyak korban. Dan yang menyedihkan, salah satu korbannya adalah Prof Iwan. Dari situ ia termotivasi untuk berjuang membela para petugas medis dalam memerangi virus corona. Kegigihannya itu membawanya bertemu dengan para pejabat BNPB. Selanjutnya ia melakukan koordinasi untuk mengumpulkan dan mendistribusikan sumbangan guna membantu mengurangi infection rate COVID-19 baik di Jakarta maupun Indonsia. Awalnya tidak ada dana dari pihak luar meskipun pada akhirnya ia berhasil menggandeng Kitabisa.

Program yang dilakukan dr Tirta dan relawan antara lain pemasangan 1000 disinfection chamber di DKI Jakarta, membagi APD dan nutrisi untuk tenaga medis, mengedukasi pola hidup bersih ke masyarakat, dan memastikan kelancaran program social distancing. Harapannya jika angka infeksi bisa ditekan maka Indonesia akan bisa keluar dari krisis corona. Ia menyatakan bahwa selama angka infeksi masih tinggi, ia terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Hal ini menyangkut sumpah dokter. Adapun harta, follower, dan popularitas hanyalah sementara.

dr Tirta

0 comments