Portal-Rakyat : Politik, Ekonomi, Sejarah, dan Budaya Indonesia

Tuesday, March 3, 2020

Waspada, Kondisi Polis Ini Dapat Menyebabkan Biaya Berobat RS karena Virus Corona Tidak Diganti Perusahaan Asuransi

Sebelum ditemukan kasus 2 (dua) pasien penderita virus corona (coronavirus) atau COVID-19 yang berdomisili di Depok, Jawa Barat, perusahaan asuransi yang beroperasi di Indonesia tidak begitu was-was, namun setelah terkonfirmasi kasus virus corona tersebut, perusahaan asuransi harus mulai melakukan analisa atau hitung-hitungan terhadap kemungkinan terjadinya pengajuan klaim asuransi dalam jumlah besar.

Secara konsep bisnis, keberlangsungan hidup perusahaan asuransi salah satunya bergantung pada jumlah klaim yang terjadi dibanding premi yang terkumpul. Apabila secara frekuensi, jumlah klaim tinggi namun nilainya kecil-kecil, kondisi ini masih tidak begitu berpengaruh, namun jika kedua parameter menunjukkan angka yang tinggi (baik tingkat frekuensi dan severity) maka bisa jadi akan menimbulkan “gangguan” pada kemampuan perusahaan dalam menunaikan kewajibannya kepada pemegang polis.

Tingkat frekuensi klaim yang tinggi dan berpeluang membahayakan perusahaan asuransi antara lain bersumber dari klaim yang bersifat katastropik (terjadi dalam skala besar dan luas). Dalam asuransi properti, kejadian bencana alam seperti gempa bumi dan banjir merupakan contoh dari peristiwa katastropik yang dapat membahayakan nasib perusahaan asuransi (terlepas dari adanya mekanisme back up reasuransi yang lazim diterapkan di industri asuransi).

Sementara pada industri asuransi jiwa, kemungkinan yang sama bisa terjadi dalam kasus wabah penyakit yang bersifat epidemik dan atau pandemik. Sebagai contoh, pada kasus virus corona ini, WHO telah menetapkan statusnya sebagai epidemik namun belum sampai pada status pandemik meskipun organisasi kesehatan dunia itu telah menaikkan statusnya dari epidemik menjadi darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).     

Masyarakat umum yang telah membeli atau memiliki polis asuransi kesehatan (health insurance) atau polis santunan harian rawat inap (cash plan benefit) perlu membuka kembali buku atau wording polisnya secara teliti dan berhati-hati. Meskipun secara umum belum dikategorikan sebagai peristiwa pandemik yang menjadi standard pengecualian polis asuransi jiwa, kesehatan, dan cash plan, namun bisa saja ada sejumlah perusahaan asuransi yang tetap tidak dapat membayar biaya berobat ke rumah sakit kepada pemegang polis. Hal ini dikarenakan bunyi polis yang sedikit berbeda, misal dalam sebuah buku polis yang berhasil penulis lihat dan pelajari yang diterbitkan oleh suatu perusahaan asuransi jiwa di Indonesia, pada pasal pengecualian disebutkan bahwa “perusahaan terbebas dari kewajiban membayar klaim jika Tertanggung meninggal dunia sebagai akibat dari wabah penyakit (epidemi) yang ditetapkan oleh Penanggung.” Ketentuan ini memberikan keleluasaan dan fleksibilitas yang tinggi kepada perusahaan asuransi untuk secara sepihak menyatakan melepaskan diri dari tanggung jawab membayar klaim dengan dasar bahwa pernyataan bahwa suatu kejadian masuk dalam status epidemi ditetapkan sendiri oleh Penanggung dan bukan didasarkan pada statement resmi dari pihak yang memiliki otoritas lebih tinggi misalnya pemerintah atau WHO.

Namun setidaknya saat ini sudah ada pernyataan dari AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) seperti yang dilansir CNNIndonesia (29/02) bahwa virus corona bukanlah pandemik sehingga perusahaan asuransi yang menawarkan produk asuransi kesehatan harus membayar klaim kepada nasabah yang terjangkit penyakit tersebut. Hal ini tentu mengacu pada pernyataan WHO di atas bahwa sampai saat ini organisasi tersebut belum memberikan status pandemik pada kasus virus corona yang kini melanda sebagian besar wilayah di dunia. Menurut AAJI melalui Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi, Albertus Wiroyo Karsono, coronavirus atau COVID-19 masih dianggap sebagai penyakit pada umumnya sehingga masih dapat dicover oleh polis asuransi.   

Atas pernyataan yang telah dikeluarkan oleh AAJI di atas diharapkan dapat memberikan ketenangan kepada masyarakat umum terutama para pemegang polis asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dan asuransi santunan rawat inap, bahwa penyakit karena virus corona masih dapat diajukan klaimnya kepada perusahaan asuransi selama belum ada perubahan status dari otoritas yang berwenang dari kejadian biasa yang bersifat lokal menjadi kejadian luar biasa yang bersifat global.

kondisi polis

0 comments