Portal-Rakyat : Politik, Ekonomi, Sejarah, dan Budaya Indonesia

Wednesday, April 1, 2020

Obat Sakit Tenggorokan yang Mengandung Amyl Meta Cresol dan Dichlorobenzyl Alcohol Memiliki Efek Virucidal Langsung pada SARS-CoV

Sebuah penelitian yang judulnya cukup panjang, “A throat lozenge containing amyl meta cresol and dichlorobenzyl alcohol has a direct virucidal effect on respiratory syncytial virus, influenza A and SARS-CoV” yang dimuat dalam SAGE Journals (https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/095632020501600205) menyebutkan adanya potensi kandungan tertentu pada obat sakit tenggorokan untuk mengurangi infektivitas virus menular tertentu di tenggorokan.

Virus pernafasan seperti influenza A, rhinovirus dan respiratory syncytial virus ditularkan atau ditransmisikan dari orang ke orang yang didominasi dengan gejala batuk yang terkontaminasi virus tetesan air liur dan tenggorokan (diulas oleh Tyrrell, 1965; Collier & Oxford, 2002). Selain itu, tetesan (droplets) seperti itu dapat menempel dan menetap pada suatu permukaan seperti gelas dan gagang pintu yang dapat menularkan atau menginfeksi orang lain (Gwaltney & Hendley, 1982). Perhatian utama para ilmuwan diarahkan pada inhibitor sintetis yang dapat menghambat replikasi virus secara intraseluler dan 2 (dua) golongan obat telah ditemukan dengan aktivitas melawan influenza A, M2 blocker, dan inhibitor neuraminidase (Oxford & Galbraith, 1987; Von Itzstein et al., 1993; Kim, et al., 1997; Gubareva et al., 2000).

Penelitian di atas dipublikasikan pada tahun 2004 setelah berlangsungnya wabah SARS sejak tahun 2002 dimana dunia medis menyatakan bahwa pasien yang terinfeksi SARS-CoV (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus) hanya dapat dirawat dengan dukungan sistem keperawatan yang memadai karena keampuhan ribavirin dan kortikosteroid pada infeksi SARS-CoV tidak terbukti.

Dalam penelitian yang melibatkan sejumlah ahli medis di Inggris itu digambarkan adanya inaktivasi in vitro dari 3 (tiga) virus pernafasan dengan formulasi tablet amyl meta cresol dan dichlorobenzyl alcohol pada pH rendah yang dilarutkan dalam air liur buatan. Phenols dan cresols telah lama dikenal sebagai antimikroba yang memiliki sifat aktif-membran, sementara alkohol juga menunjukkan aktivitas antimikroba dengan spektrum yang luas (McDonnell & Russell, 1999). Sejumlah molekul ini meringankan gejala sakit tenggorokan (Pitts & Vincent, 1988).

Studi ini telah menetapkan efek destruktif virucidal dari permen tenggorokan yang dilarutkan pada virus pernafasan dari “keluarga” yang berbeda yaitu influenza, RSV, dan SARS-CoV. Efek destruktif virus cepat terjadi dalam hitungan 2 menit dalam kontak dengan virus pada suhu 37 derajat Celcius.

Secara teoritis, ada beberapa penjelasan morfologis untuk pengurangan infektivitas virus setelah inkubasi dengan permen. Kerusakan membran virus dengan sendirinya dianggap sebagai mode tindakan utama karena hanya ada sebagian kecil strain-penetrated virions (M Addawe) setelah inkubasi dengan permen atau mengontrol air liur untuk periode yang bervariasi dari 1 – 16 menit pada suhu 37 derajat Celcius.

Wabah SARS-CoV dan virus influenza ayam A H5 dan H7 telah menunjukkan bagaimana cepatnya pandemi baru yang mungkin akan muncul. Dalam kasus SARS-CoV yang memiliki reproduksi rendah dimana orang yang terinfeksi biasanya hanya akan menginfeksi 2 (dua) atau 3 (tiga) kontak maka langkah peningkatan kebersihan dan kebersihan dapat menghasilkan penghentian mendadak dari wabah itu.

Referensi :
https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/095632020501600205
strepsils

0 comments